MODEL PEMBELAJARAN KONTEKTUAL DAN KOLABORATIF
Pembelajaran Kontekstual
merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan
memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks
kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel
dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke
permasalahan/ konteks lainnya.
Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran
dengan situasi dunia nyata siswa, dengan pendekatan kontekstual
diharapkan hasil belajar dapat lebih bermakna bagi siswa, sehingga siswa
dapat mengaplikasikan hasil belajarnya dalam kehidupan mereka dalam
jangka panjang.
Pendekatan pembelajaran kontekstual lebih mengutamakan aktifitas
siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dapat menemukan konsep tentang
materi pembelajaran dan mengaitkan konsep tersebut dengan situasi dunia
nyata mereka.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Elaine B. Johnson bahwa kekuatan,
kecepatan, dan kecerdasan otak (IQ) tidak lepas dari faktor lingkungan
atau faktor konteks, karena ada interface antara otak dan lingkungan.
Pendekatan pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk selalu
aktif dalam menemukan konsep dan mengaitkan antara pengalaman yang
dimiliki siswa dengan materi yanng dipelajari. Hal ini sesuai dengan
“pembelajaran spiral” sebagai konsekuensi dalil J. Bruner.
Dalam matematika misalnya, setiap konsep saling berkaitan dengan konsep lain, dan suatu konsep menjadi prasyarat bagi konsep lain. Sehingga siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan tersebut.
Contextual Teaching and Learning merupakan suatu proses pendidikan
yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa. Pembelajaran ini digunakan
untuk memahami makna materi pelajaran yang sedang dipelajari dalam
konteks kehidupan sehari-hari siswa (konteks pribadi, sosial, dan
kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan yang secara fleksibel
dapat diterapkan dari satu konteks ke konteks lainnya.
Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual siswa akan memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan sebagai bekal untuk memecahkan masalah
kehidupannya di lingkungan masyarakat. Siswa adalah generasi yang
dipersiapkan untuk menghadapi dan memecahkan masalah di masa mendatang
sehingga perlu dilatih dari sekarang.
Menurut S. Nasution memecahkan masalah adalah metode belajar yang
mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya (discovery) tanpa
bantuan khusus. Masalah yang dipecahkan , ditemukan sendiri tanpa
bantuan khusus akan memberi hasil yang lebih unggul dibanding pemecahan
masalah yang mendapat bantuan khusus.
Dengan demikian pendekatan pembelajaran kontekstual pembelajaran
adalah pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan konsep dan
mengaitkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman yang dimiliki
sebagai pengetahuan prasyarat untuk membangun konsep baru.
Dengan pendekatan pembelajaran kontekstual pembelajaran akan menjadi
lebih bermakna dan siswa dapat mengaplikasikan konsep yang dipelajari
dengan kehidupan nyata mereka untuk memecahkan masalah kehidupan di
lingkungannya.
Komponen Pendekatan Kontekstual
Komponen - komponen yang menyusun Pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :
- Membangun hubungan untuk menemukan makna (relating),
- Melakukan sesuatu yang bermakna (experiencing),
- Belajar secara mandiri,
- Kolaborasi (collaborating),
- Berpikir kritis dan kreatif (applying),
- Mengembangkan potensi individu (transfering),
- Standar pencapaian yang tinggi,
- Asesmen yang autentik.
Karakteristik Pendekatan Kontekstual
Ada beberapa karakteristik dalam pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, yaitu:
- Kerjasama
- Saling menunjang
- Menyenangkan, tidak membosankan
- Belajar dengan bergairah
- Pembelajaran terintegrasi
- Menggunakan berbagai sumber
- Siswa aktif
- Sharing dengan teman
- Siswa kritis guru kreatif
- Dinding dan lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain
- Laporan kepada orang tua bukan hanya rapot tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pendekatan kontekstual
mempunyai ciri khas adanya kerjasama dan sharing antar siswa agar dapat
saling menunjang dalam pembelajaran, siswa aktif , senang dan bergairah
dalam belajar, pembelajaran terintegrasi dengan mata pelajaran lain,
dengan kebebasan berpendapat membuat siswa kritis, dan suasana kelas
menjadi indah dan membuat siswa nyaman untuk belajar.
Langkah-langkah Pendekatan Kontekstual
Dalam pendekatan kontekstual ada beberapa langkah yang harus dilalui
yang disebut degan fase, ada 6 fase dalam pembelajaran antara lain :
-
Fase 1 (menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa), guru menyampaikan tujuan yan ingin dicapai dalam pembelajaran dan memotivasi siswa.
-
Fase 2 (Menyampaikan Informasi), guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
-
Fase 3 (Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar),
guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar
dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
-
Fase 4 (Membimbing kelompok belajar dan bekerja), guru membimbing kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas mereka.
-
Fase 5 (Evaluasi), guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/ meminta kelompok untuk presentasi hasil kerja.
-
Fase 6 (Memberikan Penghargaan),guru mengharagai baik upaya maupun hasil belajar individu maupun kelompok.
LATAR BELAKANG MUNCULNYA MODEL KOLABORASI
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada
kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Sebagai teknologi untuk
pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran
kolaboratif melibatkan partisipasi aktif para siswa dan meminimisasi
perbedaan-perbedaan antar
- Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
- Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perpsektif filosofis
terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki
pasangan. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah buku “Democracy and Education”
yang isinya bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Pemikiran
Dewey yang utama tentang pendidikan (Jacob et al., 1996), adalah:
- Siswa hendaknya aktif, learning by doing
- Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsik
- Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap
- Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa
- Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting.
- Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut.
Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992):
1. Belajar itu aktif dan konstruktif
Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif
dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau
mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.
2. Belajar itu bergantung konteks
Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah
menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa
terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.
3. Siswa itu beraneka latar belakang
Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti
latarbelakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi.
Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama,
dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama
dalam proses belajar.
4. Belajar itu bersifat sosial
Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.
Menurut Piaget dan Vigotsky, Strategi pembelajaran kolaboratif didukung oleh adanya tiga teori, yaitu:
1. Teori Kognitif
Teori ini berkaitan dengan terjadinya pertukaran konsep antar anggota
kelompok pada pembelajaran kolaboratif sehingga dalam suatu kelompok
akan terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan pada setiap anggota.
2. Teori Konstruktivisme Sosial
Pada teori ini terlihat adanya interaksi sosial antar anggota yang
akan membantu perkembangan individu dan meningkatkan sikap saling
menghormati pendapat semu anggota semua kelompok.
3. Teori Motivasi
Teori ini teraplikasi dalam struktur pembelajaran kolaboratif karena
pembelajaran tersebut akan memberikan lingkungan yang kondusif bagi
siswa untuk belajar, menambah keberanian anggota untuk memberi pendapat
dan menciptakan situasi saling memerlukan pada seluruh anggota dalam
kelompok.
Piaget dengan konsepnya “active learning” berpendapat
bahwa para siswa belajar lebih baik jika mereka berpikir secara
kelompok, menurut pikiran mereka maka oleh sebab itu menjelaskan sebuah
pekerjaan lebih baik menampilkan di depan keras. Piaget juga
berpendapat bila suatu kelompok aktif klompok tersebut akan melibatkan
yang lain untuk berpikir bersama, sehingga dalam belajar lebih menarik
(Smith, B.L. and Mac Gregor, 2004).
B. TUJUAN MODEL KOLABORASI
Dalam penerapan pembelajaran kolaborasi, terdapat pergeseran peran si belajar (MacGregor, 2005):
- Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif, pemberi masukan dan suka diskusi.
- Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau sedang menjadi ke persiapan kelas dengan harapan yang tinggi.
- Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko atau permasalahan menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan permasalahan.
- Dari pilihan pribadi menjadi pilihan yang sesuai dengan harapan komunitasnya.
- Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat.
- Dari tanggung jawab dan belajar mandiri, menjadi tanggung jawab kelompok dan belajar saling ketergantungan.
- Dahulu melihat guru dan teks sebagai sumber utama yang memiliki otoritas dan sumber pengetahuan sekarang guru dan teks bukanlah satu-satunya sumber belajar. Banyak sumber belajar lainnya yang dapat digali dari komunitas kelompoknya.
Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative learning”
mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu kelompok yang
bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil yang
mengarah pada tujuan bersama. Pengertian kolaborasi sendiri yaitu:
- Keohane berpendapat bahwa kolaborasi adalah bekerja bersama dengan yang lain, kerja sama, bekerja dalam begian satu team, dan di dalamnya bercampur didalam satu kelompok menuju keberhasilan bersama.
- Patel berpendapat bahwa kolaborasi adalah suatu proses saling ketergantungan fungsional dalam mencoba untuk keterampilan koordinasi, to coordinate skills, tools, and rewards.
Dari pengertian kolaborasi yang diungkapkan oleh berbagai ahli
tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar kolaborasi adalah
suatu strategi pembelajaran di mana para siswa dengan variasi yang
bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil kearah satu tujuan. Dalam
kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan yang lain.
Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang positif
untuk mencapai kesuksesan.
Belajar kolaboratif menuntut adanya modifikasi tujuan pembelajaran
dari yang semula sekedar penyampaian informasi menjadi konstruksi
pengetahuan oleh individu melalui belajar kelompok. Dalam belajar
kolaboratif, tidak ada perbedaan tugas untuk masing-masing individu,
melainkan tugas itu milik bersama dan diselesikan secara bersama tanpa
membedakan percakapan belajar siswa.
Dari uraian diatas, kita bisa mengetahui hal yang ditekankan dalam belajar kolaboratif yaitu bagaimana cara agar siswa dalam aktivitas belajar kelompok terjadi adanya kerjasama, interaksi, dan pertukaran informasi.
Selain itu, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut :
- Memaksimalkan proses kerjasama yang berlangsung secara alamiah di antara para siswa.
- Menciptakan lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa, kontekstual, terintegrasi, dan bersuasana kerjasama.
- Menghargai pentingnya keaslian, kontribusi, dan pengalaman siswa dalam kaitannya dengan bahan pelajaran dan proses belajar.
- Memberi kesempatan kepada siswa menjadi partisipan aktif dalam proses belajar.
- Mengembangkan berpikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah.
- Mendorong eksplorasi bahan pelajaran yang melibatkan bermacam-macam sudut pandang.
- Menghargai pentingnya konteks sosial bagi proses belajar.
- Menumbuhkan hubungan yang saling mendukung dan saling menghargai di antara para siswa, dan di antara siswa dan guru.
- Membangun semangat belajar sepanjang hayat.
C. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif.
- Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
- Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
- Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
- Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
- Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
- Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
- Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
- Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
D. MACAM-MACAM PEMBELAJARAN KOLABORATIF
Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan
oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:
- Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa
yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan
mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja
kelompok.
- Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu
kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan
tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai
yang diperoleh kelompok.
- Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian
beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan
apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya
berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam
situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar
masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota
kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan
pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan,
hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian
didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan
posisi yang dipilihnya.
- Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas
yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat
memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang
menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
- Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.
Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan
sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh
terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok
akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian
didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
- Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang
berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan
pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan
semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya
digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual
(menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen.
Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
- Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran
kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap,
setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan
sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama
dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar,
setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang
siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia
harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal
disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada
hasil belajar individual maupun kelompok.
- Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tutee. Tutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar,
ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam
selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang
saling berpasangan itu berganti peran.
- Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model
pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata
bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan
membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di
dalam kelompoknya.
Keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta yang berpartisipasi dalam model pembelajaran kolaboratif adalah:
- Pembentukan kelompok
- Bekerja dalam satu kelompok
- Pemecahan masalah kelompok
- Manajemen perbedaan kelompok
Menurut Reid (2004) dalam menggembangkan collaborative learning ada lima tahapan yang harus dilakukan, yaitu:
1. Engagement
Pada tahap ini, pengajar melakukan penilaian terhadap kemampuan,
minat, bakat dan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing siswa.
Lalu, siswa dikelompokkan yang di dalamnya terdapat siswa terpandai,
siswa sedang, dan siswa yang rendah prestasinya.
2. Exploration
Setelah dilakukan pengelompokkan, lalu pengajar mulai memberi tugas,
misalnya dengan memberi permasalahan agar dipecahkan oleh kelompok
tersebut. Dengan masalah yang diperoleh, semua anggota kelompok harus
berusaha untuk menyumbangkan kemampuan berupa ilmu, pendapat ataupun
gagasannya.
3. Transformation
Dari perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing siswa, lalu
setiap anggota saling bertukar pikiran dan melakukan diskusi kelompok.
Dengan begitu, siswa yang semula mempunyai prestasi rendah, lama
kelamaan akan dapat menaikkan prestasinya karena adanya proses
transformasi dari siswa yang memiliki prestasi tinggi kepada siswa yang
prestasinya rendah.
4. Presentation
Setelah selesai melakukan diskusi dan menyusun laporan, lalu setiap
kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Pada saat salah satu
kelompok melakukan presentasi, maka kelompok lain mengamati, mencermati,
membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi.
5. Reflection
Setelah selesai melakukan presentasi, lalu terjadi proses Tanya-jawab
antar kelompok. Kelompok yang melakukan presentasi akan menerima
pertanyaan, tanggapan ataupun sanggahan dari kelompok lain. Dengan
pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain, anggota kelompok harus
bekerjasama secara kompak untuk menanggapi dengan baik.
Brandt (2004) menekankan adanya lima elemen dasar yang dibutuhkan agar kerjasama dalam proses pembelajaran dapat sukses, yaitu :
1. Possitive interdependence (saling ketergantungan positif)
Yaitu siswa harus percaya bahwa mereka adalah proses belajar bersama
dan mereka peduli pada belajar siswa yang lain. Dalam pembelajaran ini
setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat
dengan antarsesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab menguasai
bahan pelajaran dan memastikan bahwa semua anggota kelompoknya pun
menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak
sukses.
2. Verbal, face to face interaction (interaksi langsung antarsiswa)
Yaitu hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya
komunikasi verbal antarsiswa yang didukung oleh saling ketergantungan
positif. Siswa harus saling berhadapan dan saling membantu dalam
pencapaian tujuan belajar. Siswa juga harus menjelaskan, berargumen,
elaborasi, dan terikat terhadap apa yang mereka pelajari sekarang untuk
mengikat apa yang mereka pelajari sebelumnya.
3. Individual accountability (pertanggungjawaban individu)
Yaitu setiap kelompok harus realis bahwa mereka harus belajar. Agar
dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu
sama lain, setiap siswa dituntut harus menguasai materi yang dijadikan
pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab
untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggung jawab pula terhadap
hasil belajar kelompok.
4. Social skills (keterampilan berkolaborasi)
Yaitu keterampilan sosial siswa sangat penting dalam pembelajaran.
Siswa dituntut mempunyai keterampilan berkolaborasi, sehingga dalam
kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan
membelajarkan sebagai bagian dari proses belajar kolaboratif. Siswa
harus belajar dan diajar kepemimpian, komunikasi, kepercayaan, membangun
dan keterampilan dalam memecahkan konflik.
5. Group processing (keefektifan proses kelompok)
Yaitu kelompok harus mampu menilai kebaikan apa yang mereka kerjakan
secara bersama dan bagaimana mereka dapat melakukan secara lebih baik.
Siswa memproses keefektifan kelompok belajarnya dengan cara menjelaskan
tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta
membuat keputusan-keputusan tindakan yang dapat dilanjutkan atau yang
perlu diubah.
Tiga pola pengelompokkan, yaitu:
1. The two-person group (tutoring)
Yaitu satu orang ditugasi mengajar yang lain. Jadi, siswa dapat berperan sebagai pengajar yang disebut tutor, sedangkan siswa yang lain disebut tutee.
2. The small group (interactive recitation; discussion)
Adalah cara penyampaian baha pelajaran di mana guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan
atau menyusun berbagai alternative pemecahan masalah.
3. Small or large group (recitation)
Yaitu suatu metode mengajar dan pengajar memberikan tugas untuk
mempelajari sesuatu kepada pembelajar, kemudian melaporkan hasilnya.
Tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar dapat dilaksanakan di rumah,
sekolah, perpustakaan, laboratorium, atau di tempat lain.
Karakteristik dalam belajar kolaboratif adalah :
- Siswa belajar dalam satu kelompok dan memiliki rasa ketergantungan dalam proses belajar, penyelesaian tugas kelompok mengharuskan semua anggota bekerja bersama.
- Interaksi intensif secara tatap muka antar anggota kelompok.
- Masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah disepakati.
- Siswa harus belajar dan memiliki ketrampilan komunikasi interpesonal.
- Peran guru sebagai mediator.
- Adanya sharing pengetahuan dan interaksi antara guru dan siswa, atau siswa dan siswa.
- pengelompokkan secara heterogen.
E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
1. Kelebihan
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d. Dapat memupuk rasa kerja sama
e. Adanya persaingan yang sehat
2. Kelemahan
a. Padapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
b. Membutuhkan waktu cukup banyak.
c. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau
sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada
orang lain.
d. Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.
sumber :
1. http://dedi26.blogspot.com/2013/06/pengertian-pembelajaran-kontekstual.html
2. https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/05/27/collaborative-learning/
yang mau saya diskusikan adalah :
1. dari pembahasan di atas kita lihat kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran
kolaboratip apakah model ini bagus di terapkan di semua jenjang pendidikan ?
2. bagaimana peran seorang guru dalam menerapkan kedua model terebut?
3. Pendekatan pembelajaran kontekstual lebih mengutamakan aktifitas
siswa dalam pembelajaran
sehingga siswa dapat menemukan konsep tentang
materi pembelajaran dan mengaitkan konsep
tersebut dengan situasi dunia
nyata mereka. dari pengertian tersebut apakah model pembelajaran
bagus diterapkan di semua mata pelajaran yang di ampuh atau tidak?
Baik saudari saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no 1, sebagaimana kita ketahui jenjang pendidikan dr mulai PAUD, SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi, yang dapat melaksanakan atau yg dapat menerapkan model pembelajaran keduanya itu dimulai dr jenjang pendidikan SMP Keatas, dikarenakan kalo masih jenjang PAUD atau SD itu pembelajaran masi butuh disediakan dulu disuapi sampai dg diantar keluar kelas itu membutuhkan bimbingan dan perhatian dr seorang guru.intinya belum bisa mandiri dan mengembangkan model pembelajaran tsb.terimakasih
BalasHapusTerimakasiH jawabannya:Tapi bukan kah berfikir kritis itu sejaK dini di tanamkan agar anak dapat memotivasi pengetahuannya dan mampu memahami secara dunia nyatanya....
HapusSaya kurang setuju dengan laila. Karena anak PAUD, SD bahkan mungkin SMP masih butuh bimbingan dalam pemecahan masalah. Mreka masih bpikir secara konkret dan membutuhkan penjelasan dengan kalimat yg sederhana. Bisa diterapkan kedua model pembelajaran ini.. tetapi tetap hrus dibimbing oleh guru dan di luruskan jawaban mreka jika itu belum sesuai dengan konsep yg benar.
HapusJadi model ini bagus di terapkan ke jenjang menengah atas saja atau bagaimana menurut pendapat saudari!!!!
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSaya menjawab pertanyaan nomor 2
BalasHapusBagaimana peran seorang guru dalam menerapkan kedua model terebut?
Jawab
Peranan guru dalam menjalankan model pembelajaran kontektual, yaitu guru sebagai Korektor membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, guru sebagai inspirator & motivator guru dapat menumbuhkan motivasi & semangat belajar siswa, guru sebagai informator memberikan informasi tentang pelajaran kepada siswa, guru sebagai inisiator mengemukakan ide-ide dalam pembelajarann, sebagai fasilitator guru mempasilitasi kegiatan pembelajaran, sebagai pembimbing guru membimbing siswa dalam proses pembelajaran, sebagai mediator guru memberikan pembelajaran dengan media peraga sebagai contoh pembelajaran, sebagai supervisor guru membantu memperbaiki dan menilai proses pembelajaran, sebagai evaluator guru mengevaluasi terhadap proses pembelajaran yang telah dilalui.
Peran guru dalam pembelajaran kooperatif, yaitu sebagai fasilitator, mediator, director-motivator, dan evaluator. Sebaggai fasilitator guru merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan jumlah anggota dalam kelompok belajar, menentukan tempat duduk siswa, merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan positif pada siswa, menyusun tugas, menjelaskan berbagai konsep belajar, mengajukan pertanyaan pada pada siswa. Sebagi mediator : guru berperan sebagai penghubung dalam menjebatani mengaitkan materi pembelajaran yang sedang dibahas melalui pembelajaran kooperatif dengan permasalahan yang nyata ditemukan di lapangan. Sebagai director-motivator guru berperan dalam membimbing serta mengerahkan jalannya diskusi, membantu kelancaran diskusi tapi tidak memberikan jawaban. Sebagai evaluator guru berperan dalam menilai kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
Secara umum dan khusus pada model pembelajaran kontektual dan kooperatif, peranan guru tidaklah lepas dari 13 peranan penting yang harus dimiliki guru. Dengan demikian untuk menjadi guru yang lebih profesional ke 13 peranan ini harus dimiliki oleh setiap guru.
Terimakasih...
Saya setuju dengan pendapat saudara roni handika putra
BalasHapusBahwasanya model pembelajaran kooperatif dapat diterapkan pada tingkat sltp ke atas
Model pembelajaran kooperatif tidak bisa diterapkan disemua jenjang pendidikan adakalanya bisa diterapkan disuatu jenjang dan sebaliknya, hal ini karena didalam metode pembelajaran kooperatif kegiatan belajar kelompok lebih diutamakan. Berhasil atau tidaknya tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh keberhasilan diskusi mereka. Misalnya siswa sd yang pada dasarnya belum memiliki rasa tanggung jawab dan cenderung lebih suka bersenang-senang akan kesulitan jika disuruh belajar sendiri apalagi untuk belajar secara berkelompok.
Terimakasih...
Terimakasih atas jawabannya kanda ondian...mau sedikit menyanggah .kan tidak semua guru mampu menguasai Dan menerapkan kewajiban 13 peranan guru.bagaiman mana dengan guru yang Kurang akan 13 peranan Yang wajib mereka kuasai ini tadi.apakah peran guru dalam model ini berjalan dengan Maxsimal Atau sebaliknya!!!
BalasHapusMeski tidak menguasai ke 13 peranan tsb,bukan berarti seorang guru dalam menerapkan model pembelajaran ini tidak maksimal, alangkah baiknya seorang guru tahu akan ke 13 peranan yang harus mereka lakukan tsb. untuk hasil pembelajaran biasanya kembali ke realitas yang ada pada saat model pembelajaran yang diberikan kepada siswa, apakah siswa mengerti dengan materi yang diberikan atau tidak jika siswa sudah mengerti berarti pembelajaran yang diberikan sudah bisa dikategorikan maksimal jika yang terjadi sebaliknya mau tidak mau seorang guru harus menguasai 13 peranan ini.
HapusSaya kurang setuju dengan laila. Karena anak PAUD, SD bahkan mungkin SMP masih butuh bimbingan dalam pemecahan masalah. Mreka masih bpikir secara konkret dan membutuhkan penjelasan dengan kalimat yg sederhana. Bisa diterapkan kedua model pembelajaran ini.. tetapi tetap hrus dibimbing oleh guru dan di luruskan jawaban mreka jika itu belum sesuai dengan konsep yg benar.
BalasHapusanak PAUD, SD bahkan mungkin SMP masih butuh bimbingan dalam pemecahan masalah. Mreka masih bpikir secara konkret dan membutuhkan penjelasan dengan kalimat yg sederhana. Bisa diterapkan kedua model pembelajaran ini.. tetapi tetap hrus dibimbing oleh guru dan di luruskan jawaban mreka jika itu belum sesuai dengan konsep yg benar.
BalasHapusmenurut saya
BalasHapussebaiknya jangan dipaksakan harus menerapkan model pembelajaran kolaboratif pada tiap jenjang pendidikan,
apalagi diterapkan pada anak setingkat PAUD atau SD
seperti yang dikatakan oleh desi puspita sari tadi ada benarnya
karena Siswa Setingkat PAUD atau SD sejatinya belum mampu untuk bekerjasama, dan belum mandiri karena siswa SD tersebut lebih cenderung banyak bimbingan dari guru.
saya rasa demikian
terima kasih :)
Assalamualaikum, baik lah sy rasa ulasan yg anda paparkan diatas sudah bagus! Sy akan mencoba menjawab no 1.
BalasHapusMeurut sy bisa terapkan di semua jenjang pendidikan. Karena melatih anak didik untuk menjadi team work dalam menyelesaikan masalah dan melatih pengalaman dalam bekerja sama. Terima kasih
saya ssangat setuju dengan pendapat saudari Wilda Purnawati. bahkan pembelajaran kolaboratif dapat dilakssanakan dijenjang pendidikan usia dini. hal ini diperlukan untuk melatik kemampuan anak dalam berkolaborasi. mengenai tugas dan muatan kurikulum tentu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didiknya.
Hapuspertanyaan no 1 menurut saya bisa saja diterapkan selanjutnya disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa
BalasHapusArtikel yang sangat menarik. Saya akan menanggapi pertanyaan no 2.bagaimana peran seorang guru dalam menerapkan kedua model terebut. Guru harus bisa menyesuaikannya dengan materi pelajaran. Terima kasih
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang penerapan model kolaboratif tergantung dengan jenjang pendidikan karena model ini dituntut dalam berkelompok.
BalasHapusUntuk soal nomor 3, semua mata pelajaran IPA, bisa menerapkan model kontekstual. Hanya saja perlu dimodifikasi. Agar lebih baik.
BalasHapus