Model-model
Pembelajaran Khusus Sains
Nama
: Lailatul hairi
1.
Pengertian pembelajaran
Pembelajaran
suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar
untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan
pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan
pembelajran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa,
materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas
penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih
untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau
kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Berkaitan dengan
cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan
pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendekatan,
strategi, teknik, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan
memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan
dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu dipahami bahwa setiap
pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan
makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa,
perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang
dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda
walaupun strategi pembelajaran sama. Makalah ini menekankan model pembelajaran
discovery, inquiri, PBL, dan PJBL yang
membahas tentang model belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas
secara nyata.
2. Model pembelajaran
adalah
seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum sedang
da
n
sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang
terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar
mengajar.Model mengajar dapat diartikan sebagai suatu rencana atau pola yang
digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi peserta didik, dan
memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting
lainnya.
terdapat sepuluh cara atau model
dalam merencanakan pembelajaran terpadu yang khas dengan pembelajaran
sains, Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented,
(2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded,
(8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked.
1. Model Penggalan (Fragmented)
Model fragmented ditandai oleh ciri pemaduan
yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran saja. Misalnya,
dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, materi pembelajaran tentang menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis dapat dipadukan dalam materi pembelajaran
keterampilan berbahasa. Dalam proses pembelajarannya, butir-butir materi
tersebut dilaksanakan secara terpisah-pisah pada jam yang berbeda-beda.
Menurut Padmono dalam bukunya Pembelajaran
Terpadu melalui Kurikulum Terpadu dalam Satu Disiplin Ilmu, mengatakan
bahwa pembelajaran terpadu melalui kurikulum terpadu fragmented terjadi jika
seorang guru memiliki keinginan agar siswa setelah menempuh pembelajaran satu
kurun waktu tertentu memiliki kemampuan atau kecakapan tertentu.Kelebihan pembelajaran
model ini adalah siswa menguasai secara penuh satu kemampuan tertentu untuk
tiap mata pelajaran, ia ahli dan terampil dalam bidang tertentu. Sedangkankekurangannya adalah
Ia belajar hanya pada tempat dan sumber belajar dan kurang mampu membuat
hubungan atau integrasi dengan konsep sejenis.
2. Model Keterhubungan (Connected)
Model connected dilandasi oleh anggapan
bahwa butir-butir pembelajaran dapat dipayungkan pada induk mata
pelajaran tertentu. Butir-butir pembelajaran kosakata, struktur, membaca
dan mengarang misalnya, dapat dipayungkan pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Penguasaan butir-butir pembelajaran tersebut merupakan keutuhan
dalam membentuk kemampuan berbahasa dan bersastra. Hanya saja pembentukan
pemahaman, keterampilan dan pengalaman secara utuh tersebut tidak berlangsung
secara otomatis. Karena itu, guru harus menata butir-butir pembelajaran
dan proses pembelajarannya secara terpadu.
3. Model Sarang
(Nested)
Model nested merupakan
pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep keterampilan melalui sebuah kegiatan
pembelajaran. Misalnya, pada satuan jam tertentu seorang guru memfokuskan
kegiatan pembelajaran pada pemahaman tata bentuk kata, makna kata, dan ungkapan
dengan saran pembuahan keterampilan dalam mengembangkan daya imajinasi, daya
berpikir logis, menentukan ciri bentuk dan makna kata-kata dalam puisi, membuat
ungkapan dan menulis puisi. Pembelajaran berbagai bentuk penguasaan konsep dan
keterampilan tersebut keseluruhannya tidak harus dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran
4. Model Urutan/Rangkaian (Sequenced)
Model sequenced merupakan model
pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel. Isi
cerita dalam roman sejarah misalnya, topik pembahasannya secara paralel atau
dalam jam yang sama dapat dipadukan dengan ikhwal sejarah perjuangan bangsa,
karakteristik kehidupan sosial masyarakat pada periode tertentu maupun topik
yang menyangkut perubahan makna kata. Topik-topik tersebut dapat dipadukan
pembelajarannya pada alokasi jam yang sama.
5. Model Bagian (Shared)
Model shared merupakan
bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya “overlapping” konsep atau
ide pada dua mata pelajaran atau lebih. Butir-butir pembelajaran tentang
kewarganegaraan dalam PPKN misalnya, dapat bertumpang tindih dengan butir
pembelajaran dalam Tata Negara, PSPB, dan sebagainya
6. Model Keterpaduan (Integrated)
Model integrated
merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda,
tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Topik evidensi yang semula
terdapat dalam mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, Pengetahuan Alam,
dan Pengetahuan Sosial, agar tidak membuat muatan kurikulum berlebihan cukup
diletakkan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya Pengetahuan Alam. Contoh
lain, dalam teks membaca yang merupakan bagian mata pelajaran
7. Model Jaring Laba-laba (Webbed)
Selanjutnya, model
yang paling populer adalah model webbed. Model ini bertolak dari
pendekatan tematis sebagai pemadu bahan dan kegiatan pembelajaran.
Dalam hubungan ini tema dapat mengikat kegiatan pembelajaran baik dalam mata
pelajaran tertentu maupun lintas mata pelajaran
8. Model Galur/ benang(Threaded)
Modelthreaded merupakan model pemaduan
bentuk keterampilan misalnya, melakukan prediksi dan estimasi dalam
matematika, ramalan terhadap kejadian-kejadian, antisipasi terhadap cerita
dalam novel, dan sebagainya. Bentuk threaded ini berfokus pada apa yang diesbut
meta-curriculum.
9.Model Celupan/Terbenam (Immersed)
Model immersed dirancang untuk membantu siswa
dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan
dengan medan pemakaiannya. Dalam hal ini tukar pengalaman dan pemanfaatan
pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
10. Model Jaringan (Networked)
Terakhir, model networked merupakan model
pemaduan pembelajaran yang mengandaikan kemungkinan pengubahan konsepsi,
bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah
siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang
berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara
terus-menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan
kenyataan yang dihadapi siswa.
pertanyaan:
1.
Dari 10 model menurut anda model mana yang lebih
menarik diterapkan dalam pembelajaran sain?
2.
Bagaimana mengatasi kekurangan pada model ini?
3.
Bagaimana peranan guru dalam penerapan model ini
?
https://Lailatulhairi.wordpress.com/2012/01/18/pendekatan-dan-metode-pembelajaran-sains/
Baiklah sy akan menjawab no 1.
BalasHapusMenurut pendaat saya, semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Semua nya cocok untuk digunakan pada pembelajaran sains. Namun yang paling banyak kita temui di sekolah, model connected lah yang sangat banyak di gunakan dalam proses pembelajaran. Terimakasih.
Apakah model conneted ini mampu sempurna di terapkan oleh guru
HapusSangat banyak aspek yang menentukan maksimal atau tidaknya penerapan model pembelajaran dikelas, kompetensi seorang guru, kesiapan seorang guru dalam merancang kegiatan dikelas, keaesuaian antara model dg materi dan karakteristik peserta didik yg akan menerima materi melalui model tersebut
HapusSaya akan menanggapi pertanyaan no 2.
BalasHapusSetiap model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan.
Untuk itu seorang guru harus mampu memiliki strategi tambahan untuk mengatasi kekurangan dari model yang digunakan.
Intinya, sebelum menggunakan suatu model dalam pembelajaran seorang guru harus paham dengan model tersebut, termasuk merancang antisipasi dari kekurangan model yang akan digunakan.
Terimakasih
Baikalah saya mencoba menjawab pertanyaan no 1
BalasHapusSaya sependapat dgn saudari wilda. Semua model d atas cocok d terapkan. Hanya saja sbg guru harus mampu melihat kondisi dan materi yg d ajarkan kpd peserta didik.
Terimakasih
Sependapat dengan saudari Selvi. Bahwa setiap model pembelajaran coxok untuk diterapkan.guru lagi yang mengkombinasi maupun menginovasi model pembelajaran di sesuaikan dengan materi pelajaran. Terima kasih
HapusTerimakasih atas masukannya amat membantu dalam penulisan artikel selanjutnya
HapusMenurut saya peran guru dalam proses pembelajaran ada tujuh yakni :
BalasHapus1.Guru sebagai sumber belajar
Peran guru sebagai sumber belajar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran. Sehingga ketika siswa bertanya, dengan sigap dan cepat tanggap, guru akan dapat lansung menjawabnya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswanya.
2.Guru sebagai Fasilitator
Peran guru sebagai fasilitator dalam memberikan pelayanan kepada siswa untuk dapat memudahkan siswa menerima materi pelajaran. Sehingga pembelajaran menjadi efektif dan efisien.
3.Guru sebagai pengelola
Dalam proses pembelajaran, guru berperan untuk memegang kendali penuh atas iklim dalam suasana pembelajaran. Diibaratkan seperti seorang nakhoda yang memegang setir kemudi kapal, yang membawa jalannya kapal ke jalan yang aman dan nyaman. Guru haruslah menciptakan suasanya kelas yang nyaman dan kondusif. Sehingga siswa dapat menerima pembelajaran dengan nyaman.
4.Guru sebagai demonstrator
Berperan sebagai demonstrator maksudnya disini bukanlah turun ke jalan untuk berdemo. Namun yang dimaksudkan disini adalah guru itu sebagai sosok yang berperan untuk menunjukkan sikap-sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal yang sama, bahkan lebih baik.
5.Guru sebagai pembimbing
Perannya sebagai seorang pembimbing, guru diminta untuk dapat mengarahkan kepada siswa untuk menjadi seperti yang diinginkannya. Namun tentunya, haruslah guru membimbing dan mengarahkan untuk dapat mencapai cita-cita dan impian siswa tersebut.
6.Guru sebagai motivator
Proses pembelajaran akan berhasil jika siswa memiliki motivasi disalam dirinya. Olehkarena itu, guru juga berperan penting dalam menumbuhkan motivasi dan semangat dalam diri siswa untuk belajar.
7.Guru sebagai evaluator
Setelah melakukan proses pembelajaran, guru haruslah mengevaluasi semua hasil yang telah dilakukan selama proses pembelajaran. Evaluasi ini tidak hanya mengevaluasi keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Namun juga sebagai evaluasi keberhasilan guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah dirancang.
Peran seorang guru tak akan dapat terganti oleh canggihnya teknologi. Teknologi memang bisa memberi berbagai macam kemudahan kepada siswa. Namun teknologi tidak dapat memberikan pendidikan karakter, nilai, dan moral kepada siswa. Sehingga gurulah yang memiliki peran penting untuk dapat menciptakan generasi muda bangsa yang beretika, berpendidikan, bermoral, dan berkarakter.
saya setuju dengan pendapat roni, banyak sekali peranan guru dalam pembelajaran
Hapussaya setuju dengan pendapat roni, banyak sekali peranan guru dalam pembelajaran
HapusApakah hanya peran guru yang di perkukan dalam penerapan ini.tidak adakah unsur lain yang membantu menrapkannya
HapusBaikalah saya akan menanggapi pertanyaan nomor 1.
BalasHapusMenurut saya, semua model menarik dan cocok digunakan dalam pembelajaran sains. Tapi sebaiknya di sesuaikan juga dengan materi yang akan di ajarkan
Pada dasarnya model pembelajaran diatas dapat diterapkan di setiap sekolah, akan ttp kita harus menelaahnya terlbih dahulu kesesuaian antara konsep ataupun tema dr setiap materi apakah sesuai dg model yg akan kita terpakan disekolahan, dan kita hrus melihat terlebih dahulu faktor2 pendukung, entah itu sarana prasarana ataupun sdm yg ada pada sekolahan ataupun instansi tmpat kita mengajar. Terimakasih.
BalasHapusmenurut saya model yang diatas menarik diterapkan, namun menurut saya model yang paling jarang dan bagus untuk kita terapkan adalah model sequenced
BalasHapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1 tentang model yang lebih menarik diterapkan dalam pembelajaran sains tergantung dengan materi dan jenjang pendidikannya.
BalasHapusKita tau skrg materi yang kita akan ajarkan pada buku cetak itu amat sukar di pahami oleh anak2 bagaimana dengan hal tsb
HapusUntuk petanyaan nomor 3, saya setuju dengan roni, Peran guru dalam pembelajaran IPA antara lain guru sebagai pendidik dan pengajar, fasilitator, pengembang sikap ilmiah, penanam pandangan kontruktivisme, manager, motivator dan evaluator.
BalasHapusmenurut saya model yang cocok diterapkan itu tergantung seorang pendidik dalam menerapkan model tersebut dan harus disesuaikan dengan materi pelajaran
BalasHapusBisakan ananda berikan contohnya... Model dan materi yang sesuai
HapusPada model immersed , pada pembelajaran sekolah dasar "pencemaran udara" . Pada SMP "sistem pernafasan manusia" . Pada tingkat SMA "dampak dari pencemaran udara yang diakibatkan polusi
HapusSangat banyak aspek yang menentukan maksimal atau tidaknya penerapan model pembelajaran dikelas, kompetensi seorang guru, kesiapan seorang guru dalam merancang kegiatan dikelas, keaesuaian antara model dg materi dan karakteristik peserta didik yg akan menerima materi melalui model tersebut
BalasHapusmodel mana yang paling bagus digunakan untuk seklah dasar?
BalasHapus