Kamis, 18 Oktober 2018

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAIN PADA SISWA



SISTEM PENILAIAN  PROSES PEMBELAJARAN SAIN PADA SISWA

A.        Pendahuluan
     Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.
Menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai.
Menurut Akhmat Sudrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut  secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri.
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas :
1.         Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
2.         Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
3.         Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
Di era informasi saat ini, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi prasyarat untuk memperoleh peluang partisipasi, adaptasi dan sekaligus untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas antara lain dapat dilakukan melalui pendidikan sains.
Dalam batas-batas tertentu pendidikan sains dapat mempersiapkan individu untuk meningkatkan kualitas hidup, mengatasi masalah-masalah sosial yang ada, membantu individu dalam memilih dan mengembangkan karir, serta membantu individu untuk mempelajari sains lebih lanjut. Pengalaman menunjukkan bahwa orang-orang yang mempunyai latar belakang pengetahuan sains yang cukup lebih mampu mentransfer pengetahuannya ke bidang-bidang di luar sains. Untuk itu pendidikan sains perlu diberikan sejak dini di sekolah-sekolah.
Menyadari betapa pentingnya pendidikan sains, telah banyak dilakukan upaya peningkatan kualitas pembelajaran sains di sekolah. Upaya ini dapat dilihat dari langkah penyempurnaan kurikulum yang terus dilakukan, peningkatan kualitas guru bidang studi, penyediaan dan pembaruan buku ajar, penyediaan dan perlengkapan alat-alat pelajaran (laboratorium) IPA, pengembangan pendekatan yang lebih relevan dan efektif mencapai tujuan pembelajaran sains, dan masih banyak usaha lain yang ditempuh untuk memperbaiki pencapaian hasil belajar sains siswa di sekolah. Namun demikian sampai sejauh ini pencapaian hasil belajar sains di sekolah secara umum dapat dinyatakan masih belum sesuai dengan harapan.
Dalam hal ini, salah satu faktor penyebabnya adalah bentuk daripada sistem penilaian kualitas pembelajaran sains dan kelulusan peserta didik  dari suatu lembaga pendidikan didasarkan pada indikator hasil belajar peserta didik yang tertera pada nilai tes belajar atau nilai tes akhir murni. Akibatnya, peserta didik dipaksa untuk melahap informasi yang disampaikan tanpa diberi peluang sedikit pun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Dalam hal ini anak didik hanya dituntut untuk belajar dengan cara menghapal semua informasi yang telah disampaikan oleh guru.
Proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis obyektif dan subyektif sebagai alat ukurnya. Keadaan semacam ini merupakan salah satu penyebab guru enggan melakukan kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks. Keadaan faktual ini mendorong siswa untuk menghapal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar.
Proses pembelajaran sains pada hakekatnya menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif , afektif, serta psi-komotorik terbentuk pada diri siswa, maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan percobaan, peragaan maupun pengamatan.
Fenomena di atas menunjukkan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru. Sistem penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Adapun tujuan dalam pembelajaran sains dapat dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep sains, pengembangan keterampilan proses atau kinerja siswa, dan penanaman sikap ilmiah.
Dengan menerapkan penilaian seperti di atas, diharapkan dapat dikumpulkan bukti-bukti kemajuan siswa secara aktual yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran sains.

B.     Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Hasil Belajar Sains
Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara pengukuran (measurement), penilaian (assessment), dan evaluasi, padahal ketiganya memiliki pengertian yang berbeda-beda. Adapun pengertian dari ketiganya adalah sebagai berikut:
1.       Pengukuran Hasil Belajar Sains
Pengukuran didefinisikan sebagai kegiatan sistemik menentukan angka/skor obyek atau gejala yang diukur dengan ukuran tertentu. Ukuran yang digunakan dapat berupa ukuran standar (m, kg, ton, rupiah, dsb) atau ukuran tidak standar (depa, jengkal, langkah, dsb). Pengukuran tidak dapat dilepaskan dari pengertian kuantitas atau jumlah. Jumlah akan menunjukkan besarnya (magnitude) obyek, orang atau peristiwa yang dilukiskan dalam bentuk unit-unit ukuran tertentu seperti misalnya: menit, derajat, meter, percentile, dsb, sehingga dengan demikian hasil pengukuran itu selalu dinyatakan dalam bentuk bilangan. Jadi pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengu-kuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Dalam kegiatan pengukuran hasil belajar sains ada prosedur atau aturan-aturan tertentu yang harus digunakan dalam penetapan angka atau skor seorang peserta didik, seperti menjumlahkan berapa benar dari sejumlah butir soal yang dikerjakan sebagai skornya dalam tes itu.
2.       Penilaian Hasil Belajar Sains
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Dalam rancangan penilaian hasil belajar Depdiknas, penilaian didefinisikan sebagai proses sistematis  meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa.
Kegiatan penilaian hasil belajar sains dilakukan untuk menafsirkan hasil pengukuran dan menentukan pencapaian hasil belajar sains berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya digunakan kategorisasi seperti baik-buruk, benar-salah, sangat setuju-sangat tidak setuju, dan sebagainya.
Pendekatan dalam penilaian pembelajaran biasanya terdiri atas: Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (Criterion-Referenced-PAP). PAN adalah penilaian yang membandingkan hasil pengukuran yang diperoleh orang lain dalam kelompoknya. Sedangkan PAP adalah penilaian berdasarkan patokan atau kriteria tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Adapun rangkuman ciri-ciri perbandingan kedua-duanya adalah sebagai berikut:

PAP
PAN
KEGUNAAN
Ketuntasan belajar
Pengujian hasil belajar
PENEKANAN UTAMA
Menjelaskan kemampuan menyelesaikan tugas
Mengukur perbedaan individu
INTERPRETASI HASIL
Membandingkan kemampuan dengan kriteria penilaian
Membandingkan antara prestasi peserta didik
KELUASAN ISI
Terfokus pada tugas terbatas
Mencakup isi yang luas
PERENCANAAN TES
Rincian kemampuan yang diukur
Kisi-kisi tes sangat dibutuhkan
PROSEDUR PEMILIHAN BUTIR
Mengikutkan semua butir yang diperlukan , tidak ada pergantian tingkat kesulitan butir atau membuang butir yang mudah
Seleksi butir dengan daya beda tinggi, memperoleh variasi skor yang besar (heterogen), butir mudah dihilangkan
STANDAR HASIL
Penggunaan standar mutlak (menguasai 75% istilah teknis)
Penggunaan standar norma (rangking 5-40 siswa)

3.       Evaluasi Hasil Belajar Sains
Evaluasi adalah penentuan nilai suatu program dan penentuan pencapaian tujuan suatu program. Evaluasi berkaitan dengan proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagaimana dari tujuan pendidikan dapat tercapai. Evaluasi juga dimanfaatkan untuk mengambil keputusan terhadap sebuah proses secara menyeluruh (input, proses, output). Evaluasi dapat digambarkan sebagai suatu proses untuk mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan mempergunakan patokan-patokan tertentu, patokan-patokan itu mengandung pengertian baik-tidak baik, memenuhi syarat-tidak memenuhi syarat, memadai-tidak memadai, dan sebagainya, dengan dipengaruhi oleh value judgment.
Kegiatan evaluasi hasil belajar sains menggunakan patokan-patokan untuk menetapkan sesuatu, patokan-patokan ini boleh bersumber dari hasil pengukuran atau pengujian atau tes atau mungkin juga bersumber dari sendiri oleh si penilai, sehingga subjektivitasnya sangat tinggi. Untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh subjektivitas dalam penilaian, maka  digunakan tes dan pengukuran, sehingga keputusan yang diambil melalui kegiatan penilaian akurasinya atau objektivitasnya dapat dipertanggung jawabkan.
4.       Tujuan dan Fungsi Evaluasi Hasil Belajar Sains
Secara garis besar tujuan dan fungsi dari evaluasi hasil belajar sains adalah untuk menetapkan apakah peserta didik dapat dinyatakan sudah menguasai kompetensi yang ditargetkan atau belum perlu dilakukan evaluasi pembelajaran sains dengan menggunakan berbagai bentuk dan alat pengukuran dan non pengukuran atau tes dan non-tes, formal ataupun non formal. Sehingga dari evaluasi yang dilakukan dalam pembelajaran dapat menggambarkan bentuk profil peserta didik.
Tujuan dan fungsi evaluasi hasil belajar secara rinci adalah sebagai berikut:
  1. Menilai kemampuan individual melalui tagihan dan tugas tertentu
  2. Menentukan kebutuhan pembelajaran
  3. Membantu dan mendorong peserta didik
  4. Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik
  5. Menentukan strategi pembelajaran
  6. Akuntabilitas lembaga
  7. Meningkatkan kualitas pendidikan
5.       Prinsip Evaluasi Hasil Belajar
Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional nomor 20 tahun 2007 menetapkan bahwa prinsip evaluasi hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Sahih, yaitu didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
  2. Obyektif, yaitu didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas tidak dipengaruhi subyektifitas penilai.
  3. Adil, yaitu tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena kebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  4. Terbuka, yaitu prosedur, kriteria, dan pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan, yaitu mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik evaluasi yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
  6. Sistematis, yaitu dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
  7. Beracuan kriteria, yaitu didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
  8. Akuntabel, yaitu dapat dipertanggung jawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
6.       Objek, Subjek, dan Etika Evaluasi
Objek dalam evaluasi pembelajaran sains mencakup proses sains dan hasil belajar sains dari peserta didik. Evaluasi proses belajar merupakan upaya evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran sains yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sedangkan evaluasi hasil belajar adalah proses evaluasi terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan kriteria tertentu. Hasil belajar tersebut pada hakikatnya merupakan pencapaian kompetensi-kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi tersebut dapat dikenali melalui sejumlah hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Evaluasi proses dan hasil belajar itu saling berkaitan satu dengan lainnya, hasil belajar merupakan akibat dari suatu proses belajar.
Guru pengampu bidang studi sains bertindak sebagai subjek evaluasi. Dalam hal ini, mengingat di sekolah pada umumnya guru-guru yang tersedia terdiri atas guru-guru disiplin ilmu seperti fisika, kimia, dan biologi. Sehingga diperlukan beberapa langkah seperti berikut:
1.    Dilakukan penelaahan untuk memastikan berapa kompetensi dasar dan standar kompetensi yang harus dicapai dalam satu topik pembelajaran sains. Hal ini berkaitan dengan berapa guru bidang studi sains yang dapat dilibatkan dalam pembelajaran pada topik tersebut.
2.  Setiap guru bertanggung jawab atas tercapainya kompetensi dasar yang termasuk dalam standar kompetensi yang ia mampu, seperti misalnya standar kompetensi-1 oleh guru dengan latar belakang biologi, standar kompetensi-2 oleh guru dengan latar belakang fisika, dan seterusnya.
3.   Disusun skenario pembelajaran dengan melibatkan semua guru yang termasuk ke dalam topik yang bersangkutan, sehingga setiap anggota memahami apa yang harus dikerjakan dalam pembelajaran tersebut.
4.   Sebaiknya dilakukan simulasi terlebih dahulu jika pembelajaran dengan sistem ini merupakan  \    
      hal yang baru, sehingga tidak terjadi kecanggungan di dalam kelas.
5.  Evaluasi dan remedial menjadi tanggung jawab masing-masing guru sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sehingga akumulasi nilai gabungan dari setiap kompetensi dasar dan standar kompetensi menjadi nilai mata pelajaran sains.
Etika evaluasi yang dilakukan seorang guru terhadap peserta didik hendaknya mencakup bidang perencanaan, pelaksanaan, maupun pelaporan evaluasi. Acuan-acuan evaluasi yang harus dilakukan seorang guru antara lain:
a.       Acuan norma:
1.      Kemampuan orang berbeda.
2.      Tes harus bisa membedakan orang.
3.      Menggunakan distribusi normal.
4.      Parameter butir: tingkat kesulitan dan daya beda
5.      Hasil  penilaian dibandingkan dengan kelompoknya
b.      Acuan kriteria:
1.      Semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan  berbeda.
2.      Parameter butir: tingkat pencapaian  dan indeks sensitivitas.
3.      Standar  harus ditentukan terlebih  dahulu.
4.      Hasil penilaian: lulus dan tidak lulus.


Yang ingin saya diskusikan ialah :
1.      Apakah ada dampak positif dan negative dari  penilaian ini?
2.    Apakah peng evaluasikan hasil belajar ini hanya di khususkan hanya di pembelajaran sain  Saja?
3.      Apakah dalam proses penilaian harus melibatkan tiga ranah, kongnitip,afektip,dan  psikomotor. ?


Daftar Pustaka

Asmawi, Z. dan Nasution, N. (1994). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Rancangan Penilaian Hasil Belajar-KTSP. Jakarta. Depdiknas Republik Indonesia.

26 komentar:

  1. Saya mencoba menjawab pertanyaan no 3.yaitu apakah dlm proses penilaian haru melibatkan 3 ranah
    Mnrut say y. Harus melibatkan 3 ranah. Karna dlm K13 taksonomi bloom penilaian d lakukan 3 ranah yaitu kognitif afektif dan psikomotor.
    Terimaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan selvi, tentu kita harus melibatkan 3 ranah tersebut karena tidak semua siswa memiliki nilai kognitif yg tinggi, oleh karena itu ranah afektif dan psikomotor jg harus digunakan sesuai kurikulum 13

      Hapus
    2. Terimakasih atas masukannya amat membantu dalam penulisan artikel selanjutnya

      Hapus
  2. Baik saudari saya tertarik menjawab point 2 sbb:

    Dampak positif
    a.Proses penilaian lebih terpusat pada siswa aktif dan kreaktif dalam pembelajaran.
    b.Langkah-langkah penilaianya sistematis sehingga memudahkan guru untuk memanajemen pelaksanaan penilaian
    c.Memberi peluang guru untuk lebih kreatif dan mengajak siswa untuk aktif dengan berbagai sumber belajar d.Proses penilaiannya melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelektual khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
    f.dapat mengembangkan karakter siswa
    g.Penilaiannya mencakup semua aspek

    Dampak negatif
    a.butuhkan kreatifitas tinggi dari guru untuk menciptakan lingkungan belajar dengan menggunakan pendekatan scientific sehingga apabila guru tidak mau kreatif maka penilaian tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
    b.guru jarang menjelaskan penilaian karena guru banyak yang beranggapan bahwa dengan kurikulum terbaru ini guru tidak perlu menjelaskan apa saja penilaiannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas masukannya amat membantu dalam penulisan artikel selanjutnya

      Hapus
  3. pertanyaan no 3. menurut saya ya karna kita tidak hanya ingin membentuk siswa yang pintar di materi saja namun baik dalam praktek dan sikapnya

    BalasHapus
  4. menurut saya tiga ranah tersebut sangat penting utuk dinilai karena di jaman sekarang pintar saja tidak cukup, bahkan kepribadian yang baik yang sangat dibutuhkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagaiman cara proses penilaian yang baik menurut ananda

      Hapus
  5. Artikel yang sangat menarik. Saya akan menjawab pertanyaan no 3.Apakah dalam proses penilaian harus melibatkan tiga ranah, kongnitif, afektip,dan psikomotor. Ya harus ketiga satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam proses penilaian. Itu adalah tujuan dari pembelajaran.terima kasih

    BalasHapus
  6. saya menanggapi nomor 1
    dampak positif dari penilaian sangat banyak dengan adaya penilain kita bisa mengevaluasi setiap kesalahan atau kekurangan yang perlu diperbaiki pada penerapan mata pelajaran dan proses belajar yang dijalani peserta didik supaya tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.
    Dampak negatif: bila penilaian tidak dilakukan dengan baik atau hanya dengan formalitas yang mana setiap siswa dinyatakan lulus padahal kenyataan sebenarnya tidak demikian maka hal inilah yang akan membuat siswa sedikit memiliki tanggung jawab dalam belajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sangat setuju dengan pendapat saudara Odian tambunan. sebagai tambahan salah satu dampak positif dari penilaian adalah guru dapat mengevaluasi pembelajaran

      Hapus
    2. Setuju dengan pendpat odian dan novrina baik disisi dampak positif dan negatif nya

      Hapus
  7. saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang proses penilaian harus melibatkan tiga ranah, kongnitf ,afektif, dan psikomotor sangat dibutuhkan karena ketiga ranah tersebut saling berhubungan dalam menciptakan ketuntasan belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa hubungan yang ananda maksudkan apakah dari segi kecerdasan atau sebaliknya

      Hapus
  8. Assalamu alaikum.
    Trima kasih artikel yang menarik, saya akan membahas nomor 1, dampak positis, tentunya kita bisa memaknai siswa, mengetahui kemampuannya sampai dimana. Sedangkan negatifnya adalah ada pada anak yang memiliki nilai rendah akan merasa dibandingkan oleh gurunya dan akhirnya kurang percaya diri.

    BalasHapus
  9. dalam penilaian itu harus menggunakan 3 ranah kognitif, afektif dan psikomotor dalam k13

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas masukannya amat membantu dalam penulisan artikel selanjutnya

      Hapus
  10. saya akan menjawab pertanyaan nomor 3,
    ranah kogitif, afektif dan psikomotor meruapan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena ketiga ranah ini sangat penting dalam proses penilaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas masukannya amat membantu dalam penulisan artikel selanjutnya

      Hapus
  11. Sya sependapat dng fella krn pda k13 ketiga penilaian tersbut lah yg diharpakan untuk menilai siswa tersebut dan ketiga penilaian tersebut saling berkaitan satu sama lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika Anda melakukan penerapan penilaian mana yang anda lakukan terlebih dahulu

      Hapus
    2. Menurut saya bukan mana yang lebih dulu tetapi saat KD dalam setiap pembelajaran telah tercapai ketiga penilaian tsb telah dilakukan oleh guru

      Hapus
    3. Menurut saya bukan mana yang lebih dulu tetapi saat KD dalam setiap pembelajaran telah tercapai ketiga penilaian tsb telah dilakukan oleh guru

      Hapus
  12. Saya akan menjawab no 1, dampak positis, tentunya kita bisa memaknai siswa, mengetahui kemampuannya sampai dimana. Sedangkan negatifnya adalah ada pada anak yang memiliki nilai rendah akan merasa dibandingkan oleh gurunya dan akhirnya kurang percaya diri.

    BalasHapus
  13. Menurut sy dampak positif dri adanya penilaian adalah. Kita bisa mengetahui sejauh mana kemampuan dari peserta didik. Sedangkan dampak negatifnya bisa memberi efek malas kepada siswa, karena sudah disiapkan remedial untuk mengukang. Terimsih

    BalasHapus
  14. Menurut saya tidak hanya padanbidang sains saja kita dilakukan penilaian banyak bidang2 lain yg juga harus di lakukan penilaian

    BalasHapus

SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAIN PADA SISWA

SISTEM PENILAIAN  PROSES PEMBELAJARAN  SAIN PADA SISWA A.         Pendahuluan      Menurut Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menga...